PROLOG
Hujan turun perlahan membasahi Kota Arunika. Lampu-lampu gedung pencakar langit berkilauan di balik kabut malam, seolah menutupi sesuatu yang tidak ingin diketahui siapa pun.
Di kota ini, orang-orang percaya bahwa setiap kejahatan pasti meninggalkan jejak. Dan jika ada jejak... Maka hanya ada dua orang yang mampu menemukannya.
Detektif Khoy Ghone, dan Detektif Shai Ghone.
Nama mereka telah menjadi legenda. Tidak ada pembunuh yang berhasil lolos. Tidak ada sindikat yang mampu bersembunyi. Tidak ada misteri yang sanggup bertahan ketika kedua detektif itu bekerja bersama.
Mereka bukan sekadar partner. Mereka adalah sahabat yang telah melewati suka dan duka sejak remaja. Mereka saling mempercayai tanpa syarat. Bahkan banyak orang berkata, jika salah satu dari mereka menutup mata, yang lain tetap mampu melihat kebenaran.
Begitulah kuatnya ikatan mereka. Namun...
Tidak ada seorang pun yang tahu bahwa setiap legenda memiliki akhir. Dan setiap kepercayaan... Memiliki harga.
Di suatu tempat yang gelap...
Seseorang sedang memandang papan penuh foto. Satu per satu wajah terpajang rapi. Di bawah setiap foto terdapat sebuah nama. Beberapa nama telah dicoret dengan tinta merah. Beberapa lainnya masih utuh.
Perlahan, tangan yang mengenakan sarung tangan hitam mengambil sebuah pena. Satu garis merah kembali ditarik. Satu nama kembali dicoret. Tidak ada amarah. Tidak ada keraguan. Semuanya dilakukan dengan tenang.
Seolah-olah itu hanyalah bagian dari pekerjaan yang telah lama direncanakan.
Di sisi lain kota... Khoy Ghone menutup sebuah berkas perkara. Ia menghela napas pelan.
"Besok kita akhirnya bisa libur."
Shai Ghone tersenyum kecil. "Jangan bicara terlalu cepat."
Khoy tertawa. "Kau selalu berpikir akan ada kasus baru."
Shai menatap hujan di balik jendela. Entah mengapa... Malam itu ia hanya terdiam.
Beberapa detik kemudian, telepon di meja mereka berdering. Seorang petugas mengangkatnya. Wajahnya seketika berubah pucat.
"Pak Khoy..." "Pak Shai..." "Ada pembunuhan."
Khoy berdiri. "Di mana?"
Petugas menelan ludah. "Korbannya ditemukan tanpa satu pun luka." "Ruangan terkunci dari dalam." "Dan..." Petugas berhenti sejenak. "Di dinding terdapat satu kalimat yang ditulis dengan darah."
Ruangan menjadi sunyi. Khoy dan Shai saling berpandangan. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, keduanya segera melangkah keluar.
Mereka belum menyadari... Bahwa panggilan malam itu bukan sekadar awal dari sebuah penyelidikan. Melainkan awal dari perjalanan yang akan mengubah persahabatan, kepercayaan, dan hidup mereka untuk selamanya.
Dan pada akhirnya... Hanya akan ada satu pertanyaan yang tersisa.
Bagaimana jika orang yang selama ini mengejar pembunuh... ternyata berjalan berdampingan dengannya?
Dua Nama, Satu Legenda
Pagi itu, Kota Arunika diselimuti langit kelabu.
Di depan Markas Besar Kepolisian Nasional, puluhan wartawan telah memenuhi halaman. Kilatan kamera terus menyala, sementara beberapa warga berdiri di balik garis pembatas hanya untuk melihat dua orang yang namanya telah menjadi legenda.
Bukan seorang presiden. Bukan seorang jenderal. Melainkan dua detektif.
"Katanya mereka berhasil menangkap pembunuh yang dicari selama tiga tahun hanya dalam dua hari."
"Aku dengar mereka tidak pernah gagal."
"Itu mereka... Detektif Khoy Ghone dan Detektif Shai Ghone."
Bisik-bisik itu terdengar di berbagai sudut.
Pintu utama markas terbuka. Seorang pria bertubuh tegap melangkah keluar lebih dulu. Jas hitam sederhana membalut tubuhnya. Tatapannya tenang, namun tajam. Wajahnya tidak menunjukkan sedikit pun kesombongan meski menjadi pusat perhatian. Dialah Detektif Khoy Ghone.
Di belakangnya berjalan seorang pria lain dengan senyum tipis yang hampir tidak pernah lepas dari wajahnya. Langkahnya santai, tetapi sorot matanya selalu memperhatikan keadaan di sekelilingnya. Dialah Detektif Shai Ghone.
Keduanya berjalan berdampingan tanpa menghiraukan kilatan kamera.
"Pak Khoy! Pak Shai! Bagaimana perasaan Anda setelah kembali memecahkan kasus besar?"
Khoy hanya menjawab singkat. "Itu tugas kami."
Seorang wartawan lain berteriak. "Benarkah tidak ada satu pun kasus yang gagal kalian pecahkan?"
Shai tersenyum kecil. "Selama pelakunya manusia..." "...ia pasti melakukan kesalahan."
Jawaban itu membuat suasana seketika hening.
Bagi sebagian orang, kalimat itu terdengar sederhana. Namun bagi para penyidik yang mengenal mereka, itu adalah prinsip yang selalu mereka pegang. Tidak ada kejahatan yang sempurna. Yang ada hanyalah penyelidikan yang belum selesai.
Baru beberapa langkah memasuki gedung, seorang polisi muda berlari menghampiri.
"Detektif Khoy! Detektif Shai!"
Khoy berhenti. "Ada apa?"
"Komisaris Arman meminta kalian segera ke ruang rapat."
"Kami ke sana." Tanpa membuang waktu, keduanya berjalan menuju lantai tiga.
Di dalam ruang rapat telah menunggu Komisaris Arman, seorang perwira senior yang telah lama bekerja bersama mereka.
Raut wajahnya jauh lebih serius dibanding biasanya. "Silakan duduk."
Khoy dan Shai saling berpandangan sebelum mengambil tempat.
Komisaris Arman membuka sebuah map berwarna merah.
"Aku punya kasus yang aneh."
Shai mengangkat alis. "Kasus aneh selalu berakhir menjadi kasus kami."
Komisaris Arman tersenyum tipis. "Karena itu aku memanggil kalian."
Ia mendorong beberapa foto ke tengah meja. Foto pertama memperlihatkan sebuah ruang brankas bank. Foto kedua memperlihatkan lemari besi yang masih tertutup rapat. Foto ketiga memperlihatkan wajah seorang pria yang telah meninggal.
Khoy mengambil salah satu foto. "Korban?" "Direktur Bank Sentral Arunika." "Nama?" "Victor Mahesa."
Shai memperhatikan foto brankas. "Tidak ada bekas pembobolan." "Tidak." "Sidik jari?" "Hanya milik korban." "Rekaman CCTV?"
Komisaris Arman menggeleng. "Tidak ada."
Khoy menatapnya. "Maksudnya?"
"Semua rekaman dari pukul delapan malam hingga enam pagi hilang."
Shai menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Hilang atau dihapus?"
"Dihapus."
Ruangan kembali sunyi.
Komisaris Arman melanjutkan, "Korban ditemukan meninggal tepat di depan lemari besi." "Tidak ada luka." "Tidak ada racun." "Tidak ada tanda perlawanan." "Dan..." Ia berhenti sejenak. "Uang di dalam brankas tidak berkurang satu lembar pun."
Khoy menatap foto korban lebih lama. "Seseorang masuk ke ruang paling aman di kota..." "...membunuh direkturnya..." "...lalu pergi tanpa mengambil apa pun."
Komisaris Arman mengangguk. "Itulah sebabnya kasus ini menjadi prioritas nasional."
Shai mengambil jasnya. "Kalau begitu..." "...jangan buang waktu lagi."
Khoy berdiri. "Kita ke tempat kejadian."
Komisaris Arman mengangguk. "Mobil sudah menunggu."
Beberapa menit kemudian...
Sebuah sedan hitam keluar dari halaman markas menuju pusat Kota Arunika. Tak seorang pun menyadari... Bahwa kasus yang tampak sederhana itu akan menjadi awal dari rangkaian peristiwa yang perlahan mengangkat nama Khoy Ghone dan Shai Ghone menjadi legenda di seluruh negeri.
Dan jauh di suatu tempat...
Sepasang mata sedang memperhatikan mobil mereka dari balik jendela gedung tinggi. Orang itu tersenyum tipis. Seolah telah mengetahui... Bahwa suatu hari nanti, kedua detektif itu akan menjadi bagian dari permainan yang jauh lebih besar.
Ruang yang Mustahil
Mobil sedan hitam berhenti tepat di depan Gedung Bank Sentral Arunika. Bangunan berlantai dua belas itu telah dipenuhi garis polisi. Beberapa wartawan mencoba mendekat, tetapi petugas keamanan menahan mereka.
Saat Detektif Khoy Ghone dan Detektif Shai Ghone turun dari mobil, seluruh perhatian langsung tertuju kepada mereka.
"Detektif Khoy datang." "Partnernya juga." "Kalau mereka yang menangani, kasus ini pasti cepat selesai."
Khoy tidak menoleh sedikit pun. Ia langsung berjalan menuju pintu masuk. Shai mengikuti di sampingnya sambil memperhatikan keadaan sekitar.
Di depan pintu, seorang pria paruh baya menyambut mereka. "Selamat datang, Detektif."
Khoy mengangguk. "Anda?"
"Saya Hendra Saputra, Kepala Keamanan bank."
"Anda yang pertama menemukan korban?"
"Benar."
Khoy menatapnya beberapa detik. "Baik. Kami akan meminta keterangan nanti."
Mereka memasuki lantai paling atas. Di ujung lorong terdapat sebuah pintu baja besar. Dua orang polisi berjaga di depan pintu itu.
Komisaris Arman yang telah lebih dahulu tiba berkata, "Korban masih berada di dalam."
Khoy mengangguk. "Pintu ini sejak awal terkunci?"
"Iya."
"Siapa yang membukanya?"
"Kepala Keamanan menggunakan kode akses darurat."
Khoy mengamati gagang pintu. Tidak ada bekas congkelan. Tidak ada goresan. Ia kemudian memperhatikan panel akses elektronik. "Panel ini mencatat siapa saja yang masuk?"
Seorang teknisi menjawab, "Mencatat."
"Datanya?"
"Hanya ada satu nama."
"Siapa?"
"Victor Mahesa."
Shai menghela napas pelan.
"Korban masuk sendirian."
"Dan tidak ada siapa pun yang keluar."
Pintu baja dibuka.
Ruangan itu sangat sunyi.
Di tengah ruangan terbaring seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun. Tubuhnya terlentang. Wajahnya tampak tenang. Tidak ada luka. Tidak ada darah. Tidak ada tanda bahwa ia sempat melawan seseorang. Di belakang tubuh korban berdiri sebuah lemari besi raksasa. Masih tertutup rapat.
Khoy berjongkok di samping jasad. Ia memperhatikan ujung jari korban. Lalu leher. Kemudian mata.
Shai berdiri mengelilingi ruangan. Pandangannya bergerak perlahan dari lantai hingga langit-langit. Ruangan itu nyaris kosong. Hanya terdapat meja kerja. Lemari besi. Dua kursi. Dan satu pendingin ruangan di sudut atas.
Beberapa menit berlalu tanpa ada yang berbicara.
Akhirnya Shai memecah keheningan. "Khoy."
"Iya."
"Apa yang pertama kali kau pikirkan?"
Khoy menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari jasad. "Pelakunya tidak datang untuk mencuri."
"Kenapa?"
"Karena uangnya masih utuh."
Shai mengangguk.
"Itu juga pikiranku."
Dokter forensik kemudian menyerahkan laporan awal.
"Penyebab kematian belum bisa dipastikan."
"Tidak ada racun?"
"Belum ditemukan."
"Serangan jantung?"
"Belum bisa disimpulkan."
Khoy membaca laporan itu dengan saksama. Kemudian bertanya, "Perkiraan waktu kematian?"
"Antara pukul sebelas malam hingga satu dini hari."
Khoy menoleh kepada Komisaris Arman. "Siapa yang terakhir melihat korban hidup?"
"Kepala Keamanan."
"Baik."
Hendra Saputra dipanggil masuk.
Pria itu tampak gugup.
Khoy mempersilahkannya duduk.
"Kapan terakhir Anda bertemu Victor Mahesa?"
"Sekitar pukul sepuluh malam."
"Untuk apa?"
"Beliau mengatakan ingin memeriksa dokumen penting di dalam brankas."
"Sendirian?"
"Iya."
"Apakah itu biasa?"
"Sering."
Khoy mengangguk.
"Lalu?"
"Saya meninggalkan beliau." "Pagi harinya saya kembali." "Pintu tetap terkunci." "Saat dibuka..." "...beliau sudah meninggal."
Khoy memperhatikan wajah Hendra. Tidak ada perubahan berarti.
Namun... Shai tiba-tiba bertanya, "Pak Hendra."
"Iya?"
"Kenapa jas Anda basah?"
Pria itu tampak terkejut. "Basah?"
"Iya." "Bagian lengan kanan."
Hendra melihat lengannya sendiri. "Oh..." "Tadi pagi saya terkena hujan."
Shai tersenyum tipis. "Menarik."
Khoy melirik Shai, tetapi tidak mengatakan apa-apa.
Setelah Hendra keluar, Khoy akhirnya bertanya, "Apa yang kau lihat?"
Shai menjawab tenang. "Di luar tidak hujan sejak pukul tujuh pagi."
Komisaris Arman langsung membuka laporan cuaca.
Beberapa detik kemudian ia mengangguk. "Benar." "Hujan baru turun menjelang siang."
Khoy menatap pintu yang baru saja ditutup. "Berarti dia berbohong." "Tapi..."
Shai menyilangkan tangan. "Belum tentu dia pembunuh."
Khoy tersenyum tipis. "Ya." "Orang yang berbohong bukan selalu pelaku." "Terkadang..." "...ia hanya menyembunyikan sesuatu yang lain."
Keduanya kembali memandang ruangan itu. Kasus ini masih dipenuhi tanda tanya. Namun bagi Khoy dan Shai... Setiap kebohongan adalah awal dari sebuah jawaban. Dan mereka baru saja menemukan kebohongan pertama.
Kebohongan Pertama
Ruang brankas kembali ditutup untuk penyelidikan. Seluruh petugas diminta keluar. Kini hanya ada Detektif Khoy Ghone, Detektif Shai Ghone, tim forensik, dan Komisaris Arman di dalam ruangan.
Khoy berdiri tepat di depan pintu baja. Ia memejamkan mata selama beberapa detik.
Shai yang mengenalnya sejak remaja hanya tersenyum kecil. "Kau sedang membayangkan jalannya kejadian."
Khoy membuka mata. "Bukan."
"Lalu?"
"Aku sedang menghilangkan semua dugaan."
Komisaris Arman mengernyit. "Maksudnya?"
Khoy menjawab tenang. "Semakin banyak dugaan, semakin sulit melihat fakta."
Khoy mulai berjalan perlahan mengelilingi ruangan. Setiap langkahnya berhenti di titik-titik tertentu. Ia memperhatikan lantai. Dinding. Langit-langit. Meja kerja. Lemari besi.
Sementara itu, Shai membuka laci meja korban. Di dalamnya terdapat dokumen-dokumen penting yang tersusun sangat rapi. Tidak ada yang tampak hilang. Tidak ada tanda seseorang mengacak-acak isi laci. Namun, Shai berhenti pada sebuah buku agenda. Ia membuka halaman terakhir. Kosong. Halaman sebelumnya juga kosong. Begitu pula beberapa halaman sebelumnya. Shai mengernyit. "Khoy."
Khoy menghampirinya. "Apa?"
"Menurutmu aneh tidak?"
"Apa yang aneh?"
"Victor dikenal sangat disiplin."
"Iya."
"Seharusnya buku agendanya penuh."
Khoy mengambil buku itu. Ia membalik halaman-halamannya perlahan. Lalu meraba permukaan kertas dengan ujung jarinya. Beberapa detik kemudian, ia berkata, "Halaman ini pernah ditulisi."
Shai menatapnya. "Tapi tintanya hilang."
Khoy mengangguk. "Bukan hilang." "Dihilangkan."
Tim forensik segera memeriksa buku agenda tersebut.
Salah seorang petugas berkata, "Benar." "Di permukaan kertas masih ada bekas tekanan tulisan."
Komisaris Arman langsung memerintahkan, "Pulihkan isinya."
"Baik, Pak."
Sementara tim forensik bekerja, Khoy kembali memperhatikan jasad korban. Kali ini ia fokus pada jam tangan yang masih melingkar di pergelangan tangan Victor. Jarum jam berhenti tepat di angka... 23.47.
Shai ikut melihat. "Rusak?"
Khoy menggeleng. "Tidak."
"Lalu?"
"Jam mekanis seperti ini tidak akan berhenti begitu saja." Khoy membalik jam tangan itu. Di bagian belakang terdapat goresan tipis. Seolah jam itu pernah terbentur benda keras. "Tapi..." gumam Khoy. "Di ruangan ini tidak ada benda yang bisa menyebabkan benturan seperti ini."
Tak lama kemudian... Seorang petugas forensik datang membawa hasil pemeriksaan awal buku agenda.
"Pak Khoy." "Kami berhasil membaca sebagian tulisan."
Khoy segera mengambil hasilnya. Tulisan itu memang tidak utuh. Namun beberapa kata masih dapat dikenali.
"...tidak bisa dipercaya..." "...dokumen asli..." "...besok malam..." Hanya tiga potongan kalimat. Tidak ada nama. Tidak ada penjelasan.
Shai membaca lembar itu berulang kali. "Lihat."
Khoy menoleh.
"Korban menulis 'tidak bisa dipercaya'."
"Artinya?"
"Victor sedang mencurigai seseorang."
Komisaris Arman bertanya, "Siapa?"
Khoy menutup lembar hasil pemeriksaan. "Itulah yang harus kita cari."
Menjelang sore... Khoy dan Shai keluar dari ruang brankas. Di lorong, puluhan pegawai bank masih menunggu dengan wajah cemas.
Khoy memperhatikan mereka satu per satu. Tidak ada yang berbicara. Tidak ada yang berani menatap matanya terlalu lama.
Namun... Seorang pegawai perempuan tampak berbeda. Ia terlihat gugup. Tangannya terus menggenggam map biru di dadanya.
Shai menyadari hal yang sama. Ia berjalan menghampiri perempuan itu. "Selamat sore."
Perempuan itu terkejut. "S-selamat sore, Pak."
"Nama Anda?"
"Lina."
"Sudah berapa lama bekerja di sini?"
"Tiga tahun."
Shai tersenyum ramah. "Jangan gugup." "Kami hanya ingin bertanya."
Perempuan itu mengangguk pelan.
Shai lalu menunjuk map yang dipeluknya. "Apa isi map itu?"
Lina menelan ludah. "D-dokumen keuangan."
"Untuk siapa?"
"Untuk... Pak Victor."
"Kenapa baru sekarang dibawa?"
Perempuan itu terdiam. Tatapannya mulai gelisah. Khoy yang sejak tadi memperhatikan dari kejauhan akhirnya mendekat.
Dengan suara tenang ia berkata, "Nona Lina." "Saya tidak tahu apa yang sedang Anda sembunyikan." "Tapi saya tahu..." "...Anda bukan sedang takut kepada kami."
Lina perlahan mengangkat kepalanya. Wajahnya mulai pucat.
Khoy melanjutkan, "Anda sedang takut kepada seseorang." Kalimat itu membuat tangan Lina bergetar. Map biru yang dipeluknya terjatuh ke lantai. Puluhan lembar dokumen berserakan. Di antara dokumen-dokumen itu... Satu amplop cokelat meluncur keluar. Di bagian depannya hanya tertulis dua kata. "Rahasia Pribadi."
Khoy dan Shai saling berpandangan. Naluri mereka mengatakan... Amplop itu mungkin akan mengubah arah penyelidikan.
Rahasia di Dalam Amplop
Puluhan lembar dokumen masih berserakan di lantai.
Seluruh pegawai bank menoleh ke arah Lina.
Wajah perempuan itu pucat.
Tangannya gemetar saat hendak mengambil amplop cokelat yang terjatuh.
Namun Detektif Khoy Ghone lebih dahulu mengambilnya.
Di bagian depan amplop hanya tertulis dua kata. "Rahasia Pribadi."
Khoy menatap Lina. "Apakah ini milik Anda?"
Lina menggeleng pelan. "Bukan, Pak."
"Milik siapa?"
"Milik... Pak Victor."
Shai memperhatikan perubahan raut wajah Lina. Ia tidak melihat ekspresi seorang pelaku. Yang ia lihat justru seseorang yang sedang ketakutan.
Khoy membuka amplop itu dengan hati-hati. Di dalamnya terdapat beberapa lembar fotokopi dokumen. Ada pula sebuah flash drive berwarna hitam.
Komisaris Arman langsung berkata, "Jangan dinyalakan di komputer biasa."
Khoy mengangguk.
"Kirim ke laboratorium digital."
Seorang petugas segera membawa flash drive tersebut.
Khoy kemudian membaca dokumen yang ada di dalam amplop. Semuanya berkaitan dengan transaksi keuangan.
Namun... Di salah satu halaman terdapat beberapa angka yang diberi lingkaran merah.
Shai ikut membaca. "Jumlah uangnya sangat besar."
Khoy mengangguk. "Bukan hanya besar." "Angka-angka ini dipindahkan ke beberapa rekening berbeda dalam hari yang sama."
Komisaris Arman bertanya, "Penggelapan dana?"
Khoy menutup dokumen itu. "Belum tentu." "Tapi jelas..." "...Victor sedang menyelidiki sesuatu."
Khoy kembali menatap Lina. "Nona Lina."
"Iya, Pak."
"Kenapa Anda membawa amplop ini hari ini?"
Lina menarik napas panjang. "Semalam Pak Victor menelepon saya."
"Apa yang beliau katakan?"
"Beliau meminta saya datang pagi ini." "Dan menyerahkan amplop ini hanya kepada beliau."
"Apakah beliau menjelaskan isinya?"
"Tidak." "Beliau hanya berkata..." Suara Lina mulai bergetar. "Kalau terjadi sesuatu padaku... jangan percaya siapa pun."
Ruangan mendadak sunyi.
Shai dan Khoy saling berpandangan.
Itu sejalan dengan tulisan yang ditemukan di buku agenda Victor.
Tak lama kemudian... Seorang petugas laboratorium digital datang tergesa-gesa.
"Pak Khoy." "Flash drive berhasil dibuka."
"Isinya?"
Petugas menyerahkan sebuah tablet.
Di dalamnya hanya ada satu folder. Folder itu berjudul: AUDIT INTERNAL
Khoy membukanya. Puluhan file muncul di layar. Semuanya berisi laporan transaksi. Namun satu file menarik perhatian mereka. Namanya sangat sederhana. DAFTAR
Khoy membukanya. Ruangan kembali hening. Di layar hanya terdapat lima nama. Tidak ada penjelasan. Tidak ada jabatan. Hanya nama.
Shai membaca satu per satu. "Tidak ada satu pun yang bekerja di bank."
Komisaris Arman bertanya, "Siapa mereka?"
Khoy menggeleng. "Itulah yang akan kita cari."
Saat mereka masih memeriksa data... Seorang anggota tim forensik kembali datang. "Pak." "Hasil autopsi awal sudah keluar."
Khoy langsung mengambil laporan.
"Penyebab kematian?"
Dokter forensik menjawab, "Korban meninggal karena kekurangan oksigen."
Komisaris Arman terkejut. "Dicekik?"
"Bukan."
"Diracun?"
"Bukan."
"Lalu bagaimana?"
Dokter menggeleng. "Itulah yang aneh." "Saluran napas korban bersih." "Paru-parunya juga normal." "Seolah-olah..."
Ia berhenti sejenak.
"Seolah tubuh korban tiba-tiba berhenti mengambil oksigen."
Shai mengernyit. "Itu mustahil."
Dokter mengangguk.
"Itulah sebabnya kami masih melakukan pemeriksaan lanjutan."
Menjelang malam... Khoy berdiri di depan jendela lantai dua belas. Lampu-lampu Kota Arunika mulai menyala.
Shai menghampirinya. "Apa yang sedang kau pikirkan?"
Khoy menjawab pelan. "Korban tahu dirinya dalam bahaya." "Ia menyimpan bukti." "Ia menulis catatan." "Dan memanggil Lina."
Shai mengangguk. "Lalu?"
"Kalau begitu..." Khoy menatap langit malam. "...ia pasti juga tahu siapa yang mengincarnya."
Shai terdiam. Kalimat itu terdengar sederhana. Namun jika benar... Maka pembunuh bukanlah orang asing. Melainkan seseorang yang dikenal dan dipercaya oleh Victor Mahesa.
Di saat yang sama... Di sebuah ruangan yang gelap... Sepasang tangan membuka sebuah koran sore. Pada halaman utama terpampang berita:
"DUO DETEKTIF KHOY GHONE DAN SHAI GHONE TURUN TANGAN MENANGANI KASUS DIREKTUR BANK."
Orang itu tersenyum tipis. Kemudian melipat koran tersebut dengan rapi. "Aku ingin melihat..." "...seberapa cepat kalian menemukan kebenaran."
Orang yang Tak Terlihat
Pukul 07.00 pagi.Ruang rapat Divisi Kriminal Khusus kembali dipenuhi berkas. Di papan investigasi terpajang foto Victor Mahesa, salinan dokumen audit, lima nama misterius dari flash drive, serta foto ruang brankas.
Detektif Khoy Ghone berdiri memperhatikan semuanya.
Di sampingnya, Detektif Shai Ghone sedang membaca hasil pemeriksaan laboratorium digital.
Komisaris Arman memasuki ruangan. "Ada perkembangan."
Khoy menoleh.
"Silakan."
"Kami berhasil mengidentifikasi lima nama di dalam flash drive."
"Siapa mereka?"
Komisaris Arman menyerahkan sebuah map.
"Lima orang ini merupakan pengusaha yang pernah bekerja sama dengan Bank Sentral Arunika."
Shai membuka halaman pertama.
"Apakah mereka saling mengenal?"
"Tidak secara langsung."
"Lalu apa hubungannya?"
"Mereka semua pernah mengajukan pinjaman dalam proyek yang sama."
Khoy mengangguk pelan.
"Berarti Victor sedang menyelidiki proyek itu."
Seorang analis digital kemudian memasuki ruangan.
"Pak Khoy."
"Kami berhasil memulihkan sebagian rekaman CCTV."
Komisaris Arman langsung berdiri.
"Tampilkan."
Layar besar di ruang rapat menyala.
Rekaman menunjukkan lorong menuju ruang brankas.
Pukul 22.31.
Victor Mahesa berjalan menuju ruang brankas.
Pukul 22.32.
Pintu tertutup.
Setelah itu...
Tidak ada siapa pun yang terlihat memasuki lorong.
Namun pada pukul 23.48... Lampu lorong berkedip selama tiga detik. Setelah lampu kembali normal... Rekaman berlanjut seperti biasa. Shai menyipitkan mata. "Putar ulang."
Rekaman diputar kembali. Lampu kembali berkedip. Shai berdiri mendekati layar. "Berhenti."
Gambar dihentikan tepat sebelum lampu padam.
Khoy ikut memperhatikan. "Lihat bayangan itu."
Semua orang menatap layar.
Di lantai lorong... Terlihat bayangan seseorang.
Anehnya... Tubuh orang itu tidak pernah terlihat. Hanya bayangannya.
Pak Arman mengernyit. "Bagaimana mungkin ada bayangan tanpa orang?"
Khoy menjawab singkat. "Berarti orangnya berada di luar jangkauan kamera."
Mereka segera menuju lokasi.
Khoy berdiri tepat di bawah kamera CCTV.
Ia memperhatikan sudut pengambilan gambar. Kemudian ia melangkah ke sisi kiri lorong.
Shai mengikuti.
Beberapa langkah kemudian... Tubuh Khoy menghilang dari layar monitor.
Namun...
Bayangannya masih terlihat.
Komisaris Arman tersenyum.
"Jadi begitu."
Khoy mengangguk.
"Pelaku sudah mengetahui titik buta kamera."
Shai menambahkan, "Artinya..." "...ia bukan orang yang baru pertama kali berada di gedung ini."
Pemeriksaan kemudian berlanjut kepada seluruh pegawai bank.
Satu per satu dimintai keterangan. Tidak ada yang mengaku mengetahui proyek yang sedang diselidiki Victor. Tidak ada yang mengaku melihat orang mencurigakan. Hingga giliran Kepala Keamanan, Hendra Saputra.
Khoy memandangnya tenang. "Pak Hendra."
"Iya."
"Anda sudah bekerja di sini berapa lama?"
"Dua belas tahun."
"Berarti Anda hafal seluruh sudut gedung ini."
"Ya."
"Termasuk titik buta kamera?"
Hendra terdiam sesaat.
"Lumayan hafal."
Shai memperhatikan perubahan ekspresi pria itu.
Hanya sepersekian detik.
Namun cukup untuk menunjukkan kegugupan.
Setelah pemeriksaan selesai...
Khoy dan Shai kembali ke ruang rapat. Shai membuka peta gedung bank. "Lihat."
Khoy mendekat.
Shai menunjuk lorong menuju ruang brankas. "Kalau pelaku memanfaatkan titik buta kamera..." "...berarti dia tahu posisi kamera."
Khoy mengangguk. "Dan hanya sedikit orang yang mengetahui detail itu."
"Kepala Keamanan." "Teknisi CCTV." "Manajemen."
Komisaris Arman ikut menambahkan, "Atau..." "...orang yang pernah bekerja di sini."
Ruangan kembali sunyi.
Sore harinya...
Hasil pemeriksaan sidik jari dari ruang brankas akhirnya tiba.
Seorang petugas laboratorium berkata, "Pak." "Tidak ditemukan sidik jari asing."
Pak Arman menghela napas. "Berarti pelaku memakai sarung tangan."
Petugas itu menggeleng. "Bukan itu yang aneh."
"Lalu?" "Kami juga tidak menemukan bekas sidik jari sarung tangan."
Khoy mengernyit. "Maksudmu?"
"Seolah..." "...tidak ada seorang pun yang menyentuh apa pun selain korban."
Shai menatap laporan itu beberapa detik. Kemudian tersenyum tipis.
Khoy menoleh. "Kau menemukan sesuatu?"
Shai mengangguk. "Ya." "Kalau pelaku tidak meninggalkan jejak..." "...ada dua kemungkinan."
"Apa?"
"Pelaku sangat sempurna." "Atau..." Shai menatap foto ruang brankas. "...pelaku sama sekali tidak pernah masuk ke ruangan itu."
Kalimat itu membuat seluruh ruangan membeku.
Jika benar... Berarti kasus ini jauh lebih mustahil daripada yang mereka bayangkan.
